Cerita Hijrah

Solusi datangnya dari Allah

 

“Saya sebenarnya sudah punya niat utk hijrah, tapi saya masih punya tanggungan KPR” …

Kalimat ini dulu salah satu yg mengganjal saya dalam melakukan hijrah, dan saya yakin masih banyak saudara2 saya yg lain juga berfikiran sama.

Namun setelah saya pikirkan …kapan kita akan hijrah kalau menunggu KPR itu lunas, sedangkan satu2 nya cara utk melunasi nya hanyalah dengan menjual rumah KPR itu….lalu kita mau tinggal dimana ?

Ini pengalaman pribadi saya :

Saat akan hijrah saya masih punya tanggungan KPR dg sisa outstanding masih Ratusan juta, itu setelah saya mengangsur selama 6 tahun dan masih ada sisa tenor selama 4 tahun. Besarnya angsuran perbulan Rp. 7 jutaan.

Dengan perhitungan menggunakan rumus manusia, saya pun memperhitungkan nilai 7 juta tersebut bisa saya dapatkan dari hasil usaha yg memang sebelumnya sudah saya rintis…Bismillah sayapun putuskan hijrah .

Tahun pertama setelah saya hijrah ternyata segala perhitungan yg saya buat dg rumus manusia itu semuanya meleset.

Mulai dari membuka 6 outlet baru setelah hijrah ternyata 4 diantaranya selalu rugi dan kerugiannya harus saya talangi dari keuntungan cabang yg untung.

Selain itu yg namanya usaha pendapatannya tidaklah tetap , apalagi usaha kuliner di Jogja yg pada saat musim tertentu seperti libur mahasiswa pasti akan mempengaruhi omset.

Bahkan ada 1 outlet saya yg sudah lama saya miliki sebelum saya hijrah pun kondisinya mulai merugi hanya karena disebabkan jalan di depan warung tersebut yg tadinya 2 arah dijadikan 1 arah oleh pemda sbg solusi kemacetan.

Padahal dulu dari keuntungan warung ini saja saya sdh cukup utk membayar angsuran KPR saya. Sampai akhirnya warung itu harus saya tutup krn sdh tdk mampu membayar sewa nya

Dengan kondisi diatas bisa dibayangkan betapa tertekannya saya utk membayar angsuran KPR itu, sayapun mendatangi bank tempat saya mengambil KPR tersebut, 2 kali saya ke Jakarta utk bernegosiasi, bahkan 4 kali saya bersurat mulai ditujukan kebagian bisnis, collection sampai ke Direksi Kepatuhan…

Semuanya tidak ada tanggapan yg serius, padahal yg saya minta hanyalah mohon angsurannya di turunkan dari 7 jutaan dg cara mereschedule tenor.

Namun semuanya tdk ada tanggapan hanya dengan alasan pinjaman saya posisinya masih kolektibilitas 1….padahal saya sdh sampaikan bahwa ini cuma tunggu waktu saja saya akan menunggak.

Ditengah keterdesakan ini, kembali yg saya punya hanya ALLAH…dan sayapun lebih mendekatkan diri lagi pada ALLAH sambil berdoa dg serius utk diberikan Solusi dari masalah ini.

Solusi pertama yg di datangkan ALLAH adalah kesepakatan dari saudara2 kandung saya utk menjual warisan satu2 nya peninggalan orang tua kami, dimana semua prosesnya di berikan kelancaran oleh ALLAH.

Mulai dari kesepakatan keluarga, penjualan, dimana pembelinya adalah orang pertama yg menghubungi kami dg langsung memberikan harga yg cukup baik menurut kami sehingga kami tdk terlalu direpotkan oleh para calo, sampai proses pembagian warisannya pun (kami 5 bersaudara laki2 semua) Alhamdulillah semua berjalan lancar dalam waktu yg singkat.

Dari hasil pembagian warisan ini setelah saya minta persetujuan isteri saya, akan kami gunakan seluruhnya utk menutup sebagian outstanding KPR dan dengan adanya penurunan outstanding ini harapan saya pihak bank berkenan utk me reschedule sisa outstanding yg lainnya sehingga angsuran saya bisa diturunkan.

Untuk persiapan ke Jakarta (krn cabang bank saya mengambil KPR nya ada di Jakarta) saya pun menghubungi sahabat saya , maksudnya adalah utk mohon izin saya menginap di rumahnya selama proses pengurusan tsb agar saya tidak perlu membayar hotel selama di Jakarta.

Tanpa saya sangka datanglah Solusi ke 2 dari ALLAH. Waktu saya telpon sahabat saya tersebut utk izin menginap dirumahnya, ternyata jawaban sahabat saya sbb:

Shbt :  “sudah….., lo lunasin aja KPR lo itu ?”

Sy : ” mau sih….tapi duitnya darimana, bayar angsurannya aja gue sdh kesulitan apalagi mau ngelunasin”

Shbt : ” Emangnya tinggal berapa sih ? ”

Sy : ” Masih banyak…..masih ratusan juta”

Shbt : ” Coba lah lo nego …barangkali bisa dapat potongan. Nanti sisa nilainya berapa lo bilang sama gue”.

Sayapun berangkat ke Jakarta utk kembali bernegosiasi permasalahan KPR saya. Akhirnya dari hasil nego ….sisa outstanding yg saya masih harus bayar kalau saya mau lunasi seteĺah di kurangi dg uang hasil pembagian warisan, maka saya masih perlu dana sebesar Rp. 160.000.000,

sesuai permintaan sahabat saya maka sayapun menelpon dia utk menyampaikan hal ini.

Sy : ” Bro ….sisa KPR masih banyak ?

Shbt : ” Iya ….berapa ?”

Sy : ” 160 juta”

Shbt : ” Kapan bisa diselesaikan ? ”

Sy : ” kalau sekarang kita ada duitnya ya bisa langsung diselesaiin…sertifikat nya besok bisa diambil”

Shbt : ” Pokoknya gue pingin lo pulang ke Jogja sdh bawa sertifikat….kirimin no rekening lo..”

Beberapa menit kemudian uang 160 juta masuk rekening saya dan sayapun menyelesaikan seluruh KPR saya.

Keesokan harinya setelah saya ambil sertifikat rumah, sayapun mendatangi kantor sahabat saya itu utk menyerahkan sertifikat tersebut kepadanya, tapi dia menolaknya dg berkata “..ngapaian juga gue simpan2 sertifikat rumah lo….bawa pulang aja ke Jogja”.

Waktu saya tanya bagaimana saya harus bayar hutang itu dia hanya berkata
” Terserah lo…..”

Akhirnya saya sendirilah yg buat perjanjian pengakuan hutang nya dg menuangkan berapa besar kemampuan bayar saya setiap bulannya termasuk berapa lama tenor cicilannya bisa saya selesaikan dan yg pasti tidak ada tambahan bunga atau biaya apapun.

Bahkan saya sampaikan kalau bulan puasa warung saya tutup dan baru buka lagi pada pertengahan bulan setelah lebaran, sehingga selama setiap 2 bulan dlm satu tahun saya minta di bebaskan utk tidak membayar cicilan. Dan dgn enteng sekali lagi dia cuma bilang ” Terserah lo…..” sambil menandatangani perjanjian tersebut……Maha Besar Engkau ya ALLAH.

Bahkan saya tidak pernah terpikir akan seperti ini Solusi nya….ternyata skenario ALLAH jauh lebih baik dari yg saya pikirkan.

Nikmat apalagi yg harus saya sangsikan. Semuanya ini terjadi hanya bermodalkan KEPERCAYAAN dan KEYAKINAN kita pada ALLAH. bahwa ALLAH tidak akan meninggalkan hambanya yg PERCAYA dan MEYAKINI NYA.

Karena itu kita harus yakin bahwa yg membayar hutang kita itu adalah ALLAH,

Membayar hutang tidak hanya dibutuhkan KEMAMPUAN tapi juga KEMAUAN. Dan keduanya baru bisa kita lakukan kalau ALLAH berkehendak. Banyak sekali kita lihat orang yg memiliki kemampuan membayar hutang tapi juga tidak memiliki kemau utk menyelesaikannya krn memang ALLAH tidak berkehendak.

Sebagai contoh : Para pegawai (termasuk kita dulu), pada saat kita menerima kenaikan gaji apakah kita lebih cenderung menggunakan kenaikan gaji tersebut utk mempercepat pembayaran hutang kita yg sudah ada atau malah lebih banyak kita menggunakan nya utk mengambil pinjaman baru ?….kalau itu yg terjadi krn memang ALLAH belum berkehendak.

Jadi sekali lagi saya sampaikan bahwa ALLAH lah yg akan membayar hutang2 kita. Krn itu dekatkanlah diri pada NYA, Mintalah pada NYA, Rayulah DIA….jangan hiraukan orang yg berpendapat ” Hutang mana bisa dibayar pake doa”…..

Dan pertanyaannya sekarang….sudah seberapa dekat kita dg ALLAH ? Sudah seberapa serius kita minta sama ALLAH ? Seberapa pasrah kita pada ALLAH ? Seberapa sering kita memikirkan ALLAH ?

Coba ingat2 …kalau kita shalat, lebih sering pikiran kita mengingat ALLAH atau mengingat masalah kita ?

Kalau hal2 yg essensi seperti ini sudah tdk kita pedulikan ….jangan harap kita mendapatkan SOLUSI dari siapapun krn SOLUSI datangnya hanya dari ALLAH….

Percayalah saudaraku …krn saya sudah membuktikannya..

Demikian, semoga manfaat

(EL CANDRA)

langitmerah
member of XBANK INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *